Jumat, 28 Juni 2013

EKOLOGI TUMBUHAN


LAPORAN RESMI
PRAKTIKUM EKOLOGI TUMBUHAN

A.  Judul
Analisis Vegetasi pada Lower Crops Community (LCC)

B.  Tujuan
1.    Menentukan besarnya kontribusi masing-masing spesies terhadap vegetasi.
2.    Mengetahui distribusi masing-masing spesies.
3.    Menghitung nilai penting masing-masing spesies.

C.  Dasar teori
Populasi tumbuhan adalah sekelompok individu tumbuhan sejenis yang hidup di suatu habitat atau lingkungan tertentu dan dapat melakukan persilangan di anatara sesama jenisnya yang menghasilkan keturunan yang fertil.(Suswanto, 2004)
Populasi tumbuhan dengan dinamikanya dapat diamati dengan melihat penyebarannya   permukaan bumi, jarak yang tidak sama antara tumbuhan satu dan tumbuhan lainnya disebabkan karena perbedaan lingkungan, sumber daya, tetangga dan ggangguan.
Perbedaan lingkungan tidak hanya mempengaruhi dan memodifikasi distribusi dan kelimpahan individu, tetapi sekaligus merubah laju pertumbuhan, produksi biji, pola percabangan, area daun, area akar, dan ukuran individu.
Persoalan khusus ekologi populasi
Distribusi dan kelimpahan tumbuhan dalam ruang dan waktu merupakan problema bagi ekologi populasi tumbuhan, karena tumbuhan mampu menghasilkan individu baru dengan melalui :
a.       Aseksual
Kaitan reproduksi tumbuhan yang dapat dilakukan dengan aseksual (Ramet) maka batasan populasi tidak hanya sekedar pada indvidu baru namun juga percabangan, ataupun perangkat organ baru yang mampu merespon lingkungan tempat hidupnya, sehingga populasi tumbuhan tidak hanya dilihat dari distribusi dan dinamika individu tumbuhan, tatapi juga termasuk pertumbuhan dinamik individu tumbuhan sendiri, seperti cabang, ranting, ataupun propagul.
b.      Seksual
Keterkaitan  reproduksi tumbuhan yang dilihat dari cara reproduksi seksual (genet) maka dinamika dan distribusi tumbuhan diamati dari pertambahan individu. Berdasarkan batasan di atas dapat diketahui reproduksi seksual dan aseksual dibedakan jelas dalam suatu vegetasi.
Penyebaran tumbuhan, kehidupan, pola pertumbuhan serta kecepatan reproduksi semuanya mencerminkan adaptasi tumbuhan tersebut dengan lingkungannya. Parameter populasi yang dapat digunakan untuk mengukur aspek dalam populasi serta model pertumbuhan diantaranya dapat ditinjau dari:
a.      Keluasan penyebaran distribusi
b.      Kecepatan pertumbuhan
c.      Frekuen gen
d.     Densitas
e.      Perbandingan antara sex ratio
f.       Pola penyebaran
g.      Struktur umur
Menurut Soerianegara dan Indrawan (1978), analisis vegetasi adalah suatu cara mempelajari susunan (komposisi jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi tumbuh-tumbuhan. Cain dan Castro (1959) dalam Soerianegara dan Indrawan (1978) menyatakan dalam penelitian yang mengarah pada analisis vegetasi, titik berat penganalisisan terletak pada komposisi jenis atau jenis. Struktur hutan dapat dipelajari dengan mengetahui sejumlah karakteristik tertentu diantaranya, densitas, frekuensi, dominansi dan nilai penting.
Dalam ilmu vegetasi telah dikembangkan metode untuk menganalisis suatu vegetasi yang sangat membantu dalam mendekripsikan suatu vegetasi sesuai dengan tujuannya (Syafei, 1990).
Kershaw (1973) mengemukakan bahwa bentuk vegetasi dibatasi oleh tiga komponen pokok yaitu: (1) stratifikasi yang adalah lapisan penyusun vegetasi (strata) yang dapat terdiri dari pohon, tiang, perdu, sapihan, semai dan herba. (2) sebaran horisontal dari jenis penyusun vegetasi tersebut yang menggambarkan kedudukan antar individu, (3) banyaknya individu dari jenis penyusun vegetasi tertentu. Selanjutnya dikatakan bahwa penguasaan suatu jenis terhadap spesies lainnya ditentukan berdasarkan Indeks Nilai Penting (Kainde, R.P.,dkk, 2011:2).
Cara untuk mempelajari komposisi vegetasi dapat dilakukan dengan Metode Berpetak (Teknik sampling kuadrat : petak tunggal atau ganda, Metode Jalur, Metode Garis Berpetak) dan Metode Tanpa Petak (Metode berpasangan acak, Titik pusat kuadran, Metode titik sentuh, Metode garis sentuh, Metode Bitterlich) (Kusuma, 1997).
Densitas, dominansi, frekuensi dan pola distribusi tumbuhan pada spesies penyusun vegetasi
Densitas, ditentukan berdasarkan jumlah individu suatu populasi jenis tumbuhan di dalam area tersebut. Densitas jarang bersifat tetap, jumlahnya akan selalu berubah sepanjang waktu dan tempat. Besar populasi dapat diukur berdasarkan:
a.       Kelimpahan yaitu jumlah mutlak individu dalam populasi
b.      Kepadatan jumlah adalah jumlah insidu per-satuan luas digunakan untuk menyatakan ukuran individu dalam populasi yang relatif sama.
c.       Kepadatan biomassa yaitu kepadatan yang dinyatakan dalam istilah berat basah, berat kering, volume, atau kadar karbon dan nitrogen per satuan luas atau volume.
Dominan ditentukan berdasarkan penutupan daerah cuplikan oleh populasi jenis tumbuhan. Sedangkan frekuensi ditentukan berdasarkan densitas dari jenis tumbuhan dijumpai dalam sejumlah area sampel (n) dibandingkan dengan seluruh total area sampel yang dibuat (N), biasanya dalam persen (%) (Surasana, 1990).
Frekuensi merupakan ukuran dari uniformitas atau regularitas terdapatnya suatu jenis frekuensi memberikan gambaran pola penyebaran suatu jenis, dan menyebar keseluruh kawasan atau kelompok. Hal ini menunjukan daya penyebaran dan adaptasinya terhadap lingkungan. Raunkiser dalam shukla dan Chandel (1977) membagi frekuensi dalm liama kelas berdasarkan besarnya persentase.Frekuensi kehadiran merupakan nilai yang menyatakan jumlah kehadiran suatu spesies di dalam suatu habitat.
Berikut rumus menentukan nilai mutlak dan nilai relatif, nilai penting:
a.    Densitas Mutlak (DsM)                  =     ∑ total individu spesies X
                                                                 ∑ total plot x luas plot minimal
b.    Densitas Relatif (DsR)                   =  ∑ DsM spesies X x 100 %
∑ total DsM
c.    Dominansi Mutlak (DmM)            =      ∑ total cover spesies X
                                                                 ∑ total plot x luas plot minimal
d.   Dominansi Relatif (DmR)              = ∑ DmM spesies X x 100 %
∑ total DmM
e.    Frekuensi Mutlak (FM)                  = ∑ plot dengan spesies X x 100 %
∑ total plot
f.     Frekuensi Relatif ( FR)                   = ∑ FM spesies X x 100 %
∑ total FM
Nilai penting digunakan untuk menetapkan dominasi suatu jenis terhadap jenis lainnya atau dengan kata lain nilai penting menggambarkan kedudukan ekologis suatu jenis dalam komunitas. Nilai Penting dihitung berdasarkan penjumlahan nilai Dominansi Relatif, Frekuensi Relatif dan Dominansi Relatif (Mueller-Dombois dan ellenberg, 1974; Soerianegara dan Indrawan, 2005).
Jika disusun dalam bentuk rumus maka akan diperoleh:
Nilai Penting                                =  DsR + DmR + FR
Harga relative ini dapat dicari dengan perbandingan antara harga suatu variabel yang didapat dari suatu jenis terhadap nilai total dari variabel itu untuk seluruh jenis yang didapat, dikalikan 100% dalam tabel. Jenis-jenis tumbuhan disusun berdasarkan urutan harga nilai penting, dari yang terbesar sampai yang terkecil. (Surasana, 1990).
Penyebaran populasi adalah pergerakan individu ke dalam atau ke luar populasi. Pada tumbuhan individu dapat berupa biji, spora, semai atau pohon yang ditanam manusia, misalnya biji yang ada dalam buah dimakan burung lalu jatuh ke suatu tempat lain penyebaran populasi ini berparan penting dalam penyebaran individu secara geografi atau daerah yang penyebarannya dapat disebabkan oleh iklim, angin, terbawa air, atau mahluk hidup lain.
Penyebaran populasi di alam berlangsung ada 3 cara yaitu
1.    Emigrasi adalah penyebaran pepulasi karena pergerakan berpindahnya individu ke luar dari habitat populasi ke habitat lain lalu individu tersebut tumbuh menetap di habitat bru.
2.    Imigrasi adalah penyebaran pepulasi karena pergerakan berpindahnya individu ke suatu daerah populasi dan individu tersebut meninggalkan daerah populasi asalnya.
3.    Migrasi adalah penyebaran pepulasi karena pergerakan berpindahnya individu ke luar dan dalam secara periodik.

D.  Cara kerja
1.         Menentukan lokasi yang memiliki heterogenitas spesies.
2.         Mencari peta lokasi yaitu peta topografi daerah PABELAN untuk menentukan luas area total yang akan diamati melalui Google Map atau dengan melangkah secara manual.
3.         Menggambar peta lokasi yang telah didapat.
4.         Menentukan jumlah titik sampling dengan urutan sebagai berikut :
-       Luas area total                  = 5  ha
-       Luas area cuplikan           = 1 % x luas wilayah
= 1 % x 5  ha
= 500 m2
-       Luas plot                          = 1 m x 1 m = 1 m2
-       Jumlah titik                      =  Luas area cuplikan
    Luas Plot
=   500 m2            =   500 plot
                                1 m2
Namun jumlah plot yang digunakan direduksi, sehingga masing-masing kelompok hanya mendapatkan 10 plot.
5.         Menentukan titik-titik sampling dalam peta.
6.         Mencari lokasi titik di lapangan dengan menggunakan protaktor.
7.         Menentukan jarak dan resection antar titik.
8.         Menentukan titik start lokasi tersebut.
9.         Menentukan resection dan intersection dari titik lokasi.
10.     Memasang plot pada titik yang telah ditentukan.
11.     Mengidentifikasi spesies-spesies yang ditemukan dalam plot.
12.     Menghitung cover, densitas, dan dominansi setiap spesies dari area plot dengan rumus sebagai berikut :
a.       Densitas Mutlak (DsM)                =     ∑ total individu spesies X
                                                                 ∑ total plot x luas plot minimal
b.      Densitas Relatif (DsR)                  =  ∑ DsM spesies X x 100 %
∑ total DsM
c.    Dominansi Mutlak (DmM)            =      ∑ total cover spesies X
                                                                 ∑ total plot x luas plot minimal
d.   Dominansi Relatif (DmR)              = ∑ DmM spesies X x 100 %
∑ total DmM
13.  Menghitung frekuensi setiap spesies dari area plot dengan rumus sebagai berikut :
a.       Frekuensi Mutlak (FM)                 = ∑ plot dengan spesies X x 100 %
∑ total plot
b.      Frekuensi Relatif ( FR)                 = ∑ FM spesies X x 100 %
∑ total FM
14.     Menentukan nilai penting dengan rumus perhitungan :
NP = DsR + DmR + FR
15.     Menentukan kontribusi spesies dalam komunitas berdasarkan hasil perhitungan nilai penting.
16.     Mentabulasikan data dalam tabel pengamatan.
17.     Menyusun portofolio secara individu.

E.  Data pengamatan
1.      DATA PENGAMATAN WILAYAH
Terlampir
2.      DATA PENGAMATAN KELOMPOK
No
SPESIES
MUTLAK
RELATIF
NP
RANGKING
DS
DM
F
DS
DM
F
1
Achalypa indica
0.05
0.05
5.00
0.07
0.05
0.93
1.05
62
2
Ageratum conyzoides
0.37
0.65
5.00
0.53
0.61
0.93
2.08
41
3
Allmania nodiflora
0.58
1.48
6.67
0.85
1.39
1.24
3.48
26
4
Ammannia microcarpa
0.10
0.07
1.67
0.15
0.06
0.31
0.52
87
5
Amorphophalus campanulatus
0.03
0.08
1.67
0.05
0.08
0.31
0.44
95
6
Aneilema hamiltonianum
0.02
0.03
1.67
0.02
0.03
0.31
0.37
105
7
Axonopus compressus
0.88
0.33
6.67
1.29
0.31
1.24
2.84
29
8
Calopogonium mucunoides
0.57
1.07
11.67
0.82
1.01
2.17
4.00
21
9
Chloris barbata
0.27
0.11
6.67
0.39
0.10
1.24
1.73
46
10
Clitoria ternatea
3.17
13.25
36.67
4.61
12.50
6.81
23.92
1
11
Columella trifolia
0.02
0.03
1.67
0.02
0.03
0.31
0.37
106
12
Cyperus eragrostis
0.13
0.25
1.67
0.19
0.24
0.31
0.74
77
13
Digitaria sanguinalis
1.05
2.73
8.33
1.53
2.58
1.55
5.65
15
14
Eclipta alba
0.02
0.00
1.67
0.02
0.00
0.31
0.34
109
15
Euphorbia hirta
0.12
0.06
5.00
0.17
0.06
0.93
1.15
58
16
Fimbristylis annua
1.90
1.98
8.33
2.76
1.87
1.55
6.18
13
17
Galinsoga parviflora
0.85
1.52
10.00
1.24
1.43
1.86
4.53
17
18
Hyptis capitata
0.07
0.28
6.67
0.10
0.26
1.24
1.59
48
19
Ipomea reptans
0.45
0.57
8.33
0.65
0.53
1.55
2.74
30
20
Kyllinga monocephala
2.38
2.57
16.67
3.47
2.42
3.10
8.99
7
21
Leersia hexandra
0.63
0.33
6.67
0.92
0.31
1.24
2.47
33
22
Limnophila erecta
0.18
0.05
1.67
0.27
0.05
0.31
0.62
80
23
Mimosa pudica
1.78
5.38
23.33
2.59
5.08
4.33
12.01
5
24
Momordica charantia
0.43
1.15
8.33
0.63
1.08
1.55
3.26
27
25
Panicum claudicum
0.67
1.33
1.67
0.97
1.26
0.31
2.54
31
26
Panicum colonum
0.30
0.75
3.33
0.44
0.71
0.62
1.76
44
27
Panicum crus-galli
0.67
1.00
1.67
0.97
0.94
0.31
2.22
37
28
Panicum distachyum
0.43
1.42
1.67
0.63
1.34
0.31
2.28
35
29
Panicum repens
0.35
0.53
6.67
0.51
0.50
1.24
2.25
36
30
Paspalum commersonii
0.08
0.05
1.67
0.12
0.05
0.31
0.48
91
31
Paspalum vaginatum
4.25
6.43
10.00
6.18
6.07
1.86
14.11
4
32
Phyllanthus niruri
0.17
0.11
6.67
0.24
0.10
1.24
1.58
49
33
Polonisia Viseosa
0.07
0.42
1.67
0.10
0.39
0.31
0.80
72
34
Sporobolus diander
1.00
1.50
1.67
1.45
1.42
0.31
3.18
28
35
Sporobolus virginieus
1.85
4.61
8.33
2.69
4.35
1.55
8.59
9
36
Tridax procumbens
0.03
0.08
1.67
0.05
0.08
0.31
0.44
98

F.   Pembahasan
Pada praktikum ini bertujuan untuk menentukan besarnya kontribusi masing-masing spesies terhadap vegetasi, mengetahui distribusi masing-masing spesies, dan menghitung nilai penting masing-masing spesies.
Di wilayah Pabelan, jumlah plot yang dipasang sebanyak 60 plot. Setelah identifikasi spesies yang ditemukan didapatkan 109 spesies yang termasuk dalam tumbuhan Lower Crop Comunnity. Ada 4 spesies yang belum teridentifikasi dan diberi nama Sp A, Spesies 1, Spesies 2 dan Spesies 5, dan 105 spesies yang sudah diidentifikasi. Selanjutnya mentabulasikan cover dan jumlah masing-masing spesies dalam satu wilayang tersebut. Lalu menghitung nilai mutlak (densitas, dominansi, dan frekuensi). Nilai mutlak yang diperoleh digunakan untuk menghitung nilai relatif (densitas, dominansi, dan frekuensi). Setelah diperoleh nilai relatif, jumlah densitas, dominansi, dan frekuensi digunakan untuk memperoleh nilai penting. Nilai penting ini digunakan untuk mengetahui rangking yang menunjukan distribusi dan kontribusi masing-masing spesies tersebut.
Berikut adalah rumus untuk mendapatkan frekuensi mutlak, frekuensi relatif, dominansi mutlak, dominansi relatif, densitas mutlak dan relatif sebagai berikut
a.       DensitasMutlak (DsM)         =     ∑ total individuspesies X
                                                   ∑total plot x luas plot minimal
b.      DensitasRelatif (DsR)           =  ∑ DsMspesies X x 100 %
∑ totalDsM
c.       DominansiMutlak (DmM)    =    ∑ total cover spesies X
 ∑total plot x luas plotminimal
d.      DominansiRelatif (DmR)      = ∑ DmMspesies X x 100 %
∑ totalDmM
e.       FrekuensiMutlak (FM)          = ∑ plot denganspesies X x 100 %
∑ total plot
f.       FrekuensiRelatif ( FR)          = ∑ FM spesies X x 100 %
∑ total FM
Nilai densitas menunjukkan jumlah individu spesies dengan satuan luas tertentu sedangkan nilai dominansi menunjukkan jumlah cover dengan satuan luas tertentu. Densitas dan dominansi menunjukkan kontribusi spesies tersebut dalam lokasi pengamatan.
Nilai frekuensi suatu jenis dipengaruhi secara langsung oleh densitas dan pola distribusinya. Nilai distribusi dapat memberikan informasi tentang keberadaan tumbuhan tertentu dalam suatu plot dan belum dapat memberikan gambaran tentang jumlah individu pada masing-masing plot.
Wilayah Pabelan
Dari data pengamatan Pabelan diperoleh nilai penting 5 terbesar sebagai berikut
1.    Clitoria ternantera ( rangking 1), nilai penting = 23.92 %
2.    Imperata cylindrica ( rangking 2), nilai penting            = 21.74 %
3.    Mimosa invisa (rangking 3), nilai penting                     = 14.62
4.    Paspalum vaginatum (rangking 4), nilai penting           = 14.11%
5.    Mimosa pudica (rangking 5), nilai penting                    = 12.01%
Dari data di atas dapat diambil kesimpulan bahwa Clitoria ternatea mempunyai rangking 1, Imperata cylindrica mempunyai rangking 2 dan Mimosa invisa mempunyai rangking 3, Paspalum vaginatum mempunyai rangking 4, Mimosa pudica mempunyai rangking 5. Rangking diambil berdasarkan nilai penting yang paling besar akan menduduki rangking terkecil.
Spesies yang mempunyai nilai penting tertinggi dapat digunakan untuk menentukan penamaan vegerati wilayah tersebut. Pada wilayah Pabelan, spesies yang mendominasi adalah Clitoria ternatea, Imperata cylindrica, Mimosa invisa, Paspalum vaginatum dan Mimosa pudica sehingga spesies tersebut berkontribusi tinggi dalam menyusun vegetasi wilayah Pabelan. Distribusi Clitoria ternatea pada wilayah Pabelan lebih besar dibandingkan yang lain. Hal ini dapat ketahui dengan adanya analisis kuantitatif yang berupa nilai penting terbesar.
Pada wilayah Pabelan, Clitoria ternatea mempunyai daya adaptasi, strategi regenerasi, distribusi yang bagus sehingga spesies tersebut mempunyai kontribusi yang terbesar pada wilayah Pabelan.
Dari data pengamatan Pabelan, juga dapat diperoleh nilai penting 5 terkecil sebagai berikut
1.    Eclipta alba ( rangking 108), nilai penting                                = 0.34 %
2.    Cleome viscosa  ( rangking 107), nilai penting             = 0.35%
3.    Spesies 2 ( rangking 106), nilai penting                                     = 0.37%
4.    Columella trifolia (rangking 105),nilai penting                         =  0.37%
5.    Aneilema hamiltonianum  (rangking 105), nilai penting           =  0.37%
Kelima spesies tersebut memiliki nilai penting terendah yang menunjukan bahwa tumbuhan Spesies 2, Cleome viscosa, Eclipta alba, Aneilema hamiltonianum dan Columella trifolia pada wilayah Pabelan tidak mendominasi, sehingga distribusi tidak merata di seluruh Pabelan. Hal ini ditunjukan dengan frekuensi relatif yang menggambarkan distribusi dan daya adaptasi pada lingkungan tersebut. Pada kelima spesies tersebut didapatkan frekuensi relative dan mutlak yang sama sehingga distribusi spesies tersebut nampaknya hampir sama. Perbedaan kelima spesies tersebut pada densitas dan dominansinya yang menunjukan angka yang bervariasi. Pada densitas tersebut menunjukan adanya strategi regenerasi yang lebih bagus pada spesies Eclipta alba, Aneilema hamiltonianum dan Columella trifolia dibandingkan Spesies 2, dan Cleome viscosa. Olek karena itu, Eclipta alba, Aneilema hamiltonianum dan Columella trifolia mempunyai rangking lebih bagus.
Dengan adanya nilai penting yang terkecil maka menunjukan distribusi, upaya regenerasi yang lemah sehingga kontribusi spesies tersebut pada wilayah Pabelan sedikit dan distribusi spesies tersebut jarang ditemukan.
Data kelompok 2
Dari identifikasi spesies yang ditemukan dalam masing-masing plot, kelompok 2 mendapatkan 36 spesies, yaitu: Achalypa indica, Ageratum conyzoides, Allmania nodiflora, Ammannia microcarpa, Amorphophalus campanulatus, Aneilema hamiltonianum, Axonopus compressus, Calopogonium mucunoides, Chloris barbata, Clitoria ternatea, Columella trifolia, Cyperus eragrostis, Digitaria sanguinalis, Eclipta alba, Euphorbia hirta, Fimbristylis annua, Galinsoga parviflora, Hyptis capitata, Ipomea reptans, Kyllinga monocephala, Leersia hexandra, Limnophila erecta, Mimosa pudica, Momordica charantia, Panicum claudicum, Panicum colonum, Panicum crus-galli, Panicum distachyum, Panicum repens, Paspalum commersonii, Paspalum vaginatum, Phyllanthus niruri, Polonisia Viseosa, Sporobolus diander, Sporobolus virginieus, dan Tridax procumbens.
Dari ke 36 spesies tersebut, diperoleh nilai penting pada data angkatan wilayah Pabelan  maka diperoleh rangking sebagai berikut:
A.  Rangking 3 teratas
1.        Clitoria ternantera
Clitoria ternantera memiliki nilai penting yang tinggi sehingga menempati rangking 1 pada data wilayah Pabelan. Dari analisa kuantitatif diperoleh nilai penting sebesar 23.92 %, dan menempati rangking pertama.
Dengan adanya nilai penting yang tertinggi maka menunjukan jumlah nilai relative yang terdiri dari densitas, dominansi dan frekuensi yang lebih tinggi dibandng yang lain sehingga dapat disimpulkan bahwa spesies ini memiliki kontribusi yang besar dalam menyusun vegetasi di wilayah Pabelan karena upaya regenerasi, distribusi dan adaptasi spesies ini cocok dalam lingkungan tersebut.
2.      Paspalum vaginatum
Paspalum vaginatum memiliki nilai penting tinggi yaitu sebesar 14.11%, setelah  mendapatkan nilai penting lalu diperoleh rangkingnya. Pada data wilayah Pabelan, Paspalum vaginatum mendapatkan rangking 4.
Nilai penting yang tinggi menunjukan jumlah nilai relative yang terdiri dari densitas, dominansi dan frekuensi yang lebih tinggi dibanding yang lain sehingga dapat disimpulkan bahwa spesies ini memiliki kontribusi yang besar dalam menyusun vegetasi di wilayah Pabelan karena upaya regenerasi, distribusi dan adaptasi spesies ini cocok dalam lingkungan tersebut.
3.      Mimosa pudica
Mimosa pudica memiliki nilai penting tinggi yaitu sebesar 12.01%, setelah  mendapatkan nilai penting lalu diperoleh rangkingnya. Pada data wilayah Pabelan, spesies ini mendapatkan rangking 5.
Dengan adanya nilai penting tertinggi rangking kelima maka menunjukan jumlah nilai relative yang terdiri dari densitas, dominansi dan frekuensi yang lebih tinggi dibanding spesies dengan rangking di bawahnya sehingga dapat disimpulkan bahwa spesies ini memiliki kontribusi yang besar dalam menyusun vegetasi di wilayah Pabelan karena upaya regenerasi, distribusi dan adaptasi spesies ini cocok dalam lingkungan Pabelan
B.  Rangking 3 terbawah
1.      Aneilema hamiltonianum
Aneilema hamiltonianum memiliki nilai penting tinggi yaitu 0.37%, setelah  mendapatkan nilai penting lalu ditentukan rangkingnya. Pada data wilayah Pabelan, spesies ini mendapatkan rangking 105 dari 109 spesies.
Hal ini menunjukan nilai penting rendah maka jumlah nilai relative yang terdiri dari densitas, dominansi dan frekuensi yang sangat kecil. Oleh kerana itu, Aneilema hamiltonianum memiliki kontribusi yang sangat kecil dalam menyusun vegetasi di wilayah Pabelan karena upaya regenerasi, distribusi dan adaptasi spesies ini kurang cocok dalam lingkungan Pabelan. Hal ini ditunjukan dengan adanya penghitungan cover dan jumlah spesies pada tiap plot yang sedikit sehingga densitas, dominansi dan frekuensi sedikit yang menyebabkan nilai pentingnya juga akan sedikit. Frekuensi ini akan menunjukan adanya persebaran spesies dalam suatu wilayah.
2.      Columella trifolia
Columella trifolia memiliki nilai penting tinggi yaitu sebesar 0.37%, setelah  mendapatkan nilai penting lalu ditentukan rangkingnya. Pada data wilayah Pabelan, spesies ini mendapatkan rangking 106 dari 109 spesies.
Dengan adanya nilai penting rendah maka menunjukan jumlah nilai relative yang terdiri dari densitas, dominansi dan frekuensi yang sangat kecil. Oleh kerana itu, Columella trifolia  memiliki kontribusi yang sangat kecil dalam menyusun vegetasi di wilayah Pabelan karena upaya regenerasi, distribusi dan adaptasi spesies ini kurang cocok dalam lingkungan Pabelan.
3.      Eclipta alba
Eclipta alba memiliki nilai penting tinggi yaitu sebesar 0.34%, setelah  mendapatkan nilai penting lalu ditentukan rangkingnya. Pada data wilayah Pabelan, spesies ini mendapatkan rangking 109 dari 109 spesies.
Nilai penting terendah maka menunjukan jumlah nilai relative yang terdiri dari densitas, dominansi dan frekuensi yang sangat kecil. Oleh kerana itu, Ammannia microcarpa  memiliki kontribusi yang sangat kecil dalam menyusun vegetasi di wilayah Pabelan karena upaya regenerasi, distribusi dan adaptasi spesies ini kurang cocok dalam lingkungan Pabelan.
Perbandingan wilayah Pabelan dan Plesungan
Dari data pengamatan Pabelan diperoleh nilai penting 3 terbesar yaitu
1.    Clitoria ternantera ( rangking 1), nilai penting = 23.92 %
2.    Imperata cylindrica ( rangking 2), nilai penting            = 21.74 %
3.    Mimosa invisa (rangking 3), nilai penting                     = 14.62 %
Dari data pengamatan Pabelan juga dapat diperoleh nilai penting 3 terkecil sebagai berikut
1.    Eclipta alba ( rangking 108), nilai penting                    = 0.34 %
2.    Cleome viscosa  ( rangking 107), nilai penting = 0.35 %
3.    Spesies 2 ( rangking 106), nilai penting                         = 0.37%
Dari data pengamatan Plesungan diperoleh nilai penting 3 terbesar adalah
1.      Paspalum conjugatum dengan NP = 29,22%
2.      Axonopus compresus dengan NP = 16,95%
3.      Oplismenus burmanii dengan NP = 16,39%
Dari data pengamatan Plesungan, juga dapat diperoleh nilai penting 3 terkecil sebagai berikut
1.    Phyllantus tenellus dengan NP = 0,26%
2.    Fleurya aestuans dengan NP = 0,25%
3.    Cleoma viscosa dengan NP = 0,25%
Dari data wilayah Pabelan dan Plesungan terlihat spesies yang menduduki peringkat tertinggi dan terendah yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat disebabkan karena lingkungan biotik dan abiotik, sumber daya, tetangga dan gangguan yang ada pada wilayah tersebut berbeda sehingga mempengaruhi distribusi, kelimpahan individu, dan mengubah laju pertumbuhan, produksi biji, pola percabangan, area daun, area akar dan ukuran individu. Oleh karena itu, peringkat tiap wilayah berbeda sehingga kontribusi suatu spesies dalam suatu daerah juga berbeda.

G. Kesimpulan
Populasi tumbuhan adalah sekelompok individu tumbuhan sejenis yang hidup di suatu habitat atau lingkungan tertentu dan dapat melakukan persilangan di anatara sesama jenisnya yang menghasilkan keturunan yang fertil.
Analisis vegetasi adalah suatu cara mempelajari susunan (komposisi jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi tumbuh-tumbuhan.
Pada data wilayah Pabelan didapatkan rangking sebagai berikut:
Dari data pengamatan Pabelan diperoleh nilai penting 5 teratas sebagai berikut
1.    Clitoria ternantera ( rangking 1), nilai penting = 23.92 %
2.    Imperata cylindrica ( rangking 2), nilai penting            = 21.74 %
3.    Mimosa invisa (rangking 3), nilai penting                     = 14.62 %
4.    Paspalum vaginatum (rangking 4), nilai penting           = 14.11%
5.    Mimosa pudica (rangking 5), nilai penting                    = 12.01%
Dari data pengamatan pabelan diperoleh nilai penting 5 teratas sebagai berikut
1.      Eclipta alba ( rangking 108), nilai penting                              = 0.34 %
2.      Cleome viscosa  ( rangking 107),nilai penting                        = 0.35%
3.      Spesies 2 ( rangking 106), nilai penting                                  = 0.37%
4.      Columella trifolia (rangking 105), nilai penting                      =  0.37  %
5.      Aneilema hamiltonianum  (rangking 105), nilai penting         =  0.37  %
Pada data kelompok 2 didapatkan hasil sebagai berikut:
A.    Rangking 3 teratas
1.      Clitoria ternantera, nilai penting sebesar 23.92 %,
2.      Paspalum vaginatum, Paspalum vaginatum, nilai penting sebesar 14.11%.
3.      Mimosa pudica memiliki nilai penting sebesar 12.01%
B.     Rangking 3 terbawah
1.      Aneilema hamiltonianum memiliki nilai penting tinggi yaitu 0.37%,
2.      Columella trifolia memiliki nilai penting tinggi yaitu sebesar 0.37%
3.      Eclipta alba memiliki nilai penting tinggi yaitu sebesar 0.34%
Dengan diketahui nilai penting maka dapat diketahui kontribusi spesies pada wilayah tersebut. Semakin besar nilai penting maka kontribusinya semakin besar disebabkan karena kemampuan distribusinya cepat, daya adaptasi spesies itu lebih cepat.
Dari data wilayah Pabelan dan Plesungan terlihat spesies yang menduduki peringkat tertinggi dan terendah yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat disebabkan karena lingkungan biotik dan abiotik, sumber daya, tetangga dan gangguan yang ada pada wilayah tersebut berbeda sehingga mempengaruhi distribusi, kelimpahan individu, dan mengubah laju pertumbuhan, produksi biji, pola percabangan, area daun, area akar dan ukuran individu. Oleh karena itu, peringkat tiap wilayah berbeda sehingga kontribusi suatu spesies dalam suatu daerah juga berbeda.

H.  Daftar pustaka
Eden Surasana dan Syafei. 1990. Pengantar Ekologi Tumbuhan. Bandung. ITB.
Kainde, R.P.,dkk. 2011. Analisis Vegetasi Hutan Lindung Gunung Tumpa (Vegetation Analysis of The Mount Tumpa Preotection Forest). Eugenia. Vol.17, No.3
Kusmana, C. 1997. Metode Survey Vegetasi. Penerbit Institut Pertanian: Bogor
Soerianegara, I  dan Indrawan, A. 1988. Ekologi Hutan Indonesia. Institut Pertanian Bogor: Bogor.
Syafei, Eden Surasana. 1990. Pengantar Ekologi Tumbuhan. ITB: Bandung
Widoretno, Sri. 2010. Populasi dan Demografi Tumbuhan dalam http:// widoretnostaff.fkip.uns.ac.id
Wolf, Larry dan S.J McNaughton. 1990.  Ekologi Umum.  UGM Press: Jogjakarta.

I.               LAMPIRAN
1.      Lembar Dokumentasi
2.      Lembar Data pengamatan wilayah Pabelan
Lembar Data pengamatan kelompok 2

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar