Kamis, 14 Februari 2013

Makalah Paleontologi


Peran Paleontologi dalam Meningkatkan Profesionalisme Guru Biologi

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Profesi guru adalah keahlian dan kewenangan khusus dalam bidang pendidikan, pengajaran, dan pelatihan yang ditekuni untuk menjadi mata pencaharian dalam memenuhi kebutuhan hidup yang bersangkutan. Keberhasilan guru melaksanakan perananya dalam bidang pendidikan sebagian besar terletak pada kemampuannya melaksanakan berbagai peranan yang bersifat khusus dalam situasi mengajar dan belajar.
Dalam pembelajaran biologi berbeda dengan pelajaran yang lain. Oleh karena itu, dalam materi Biologi mempunyai karakteristik yang berbeda dengan karakter pelajaran yang lain. Pemahaman konsep-konsep biologi dapat dianalogikan dengan berbagai macam kegiatan sederhana yang dapat diamati atau dilakukan siswa. Salah datu kegiatan yang menarik dalam pembelajaran Biologi adalah praktikum tapi ada beberapa materi yang tidak dapat dipraktikumkan. Biologi juga suatu ilmu yang mempelajari tentang klasifikasi dan bisa dibuktikan dengan adanya bukti kongret dari masa lalu misalnya fosil.
Oleh karena itu, dalam makalah ini akan membahas keprofesionalisme guru Biologi yang berhubungan dengan paleontology dan peran paleontologinya daam meningkatkan profesionalisme guru biologi.

B.  Rumusan Masalah
Dalam makalah ini mempunyai rumusan masalah sebagai berikut:
1.    Bagaimana pengertian paleontologi?
2.    Bagaimana ruanglingkup paleontologi?
3.    Bagaimana konsep dasar paleontologi?
4.    Bagaimana ilmu yang berkaitan dengan paleontologi?
5.    Bagaimana pengertian profesionalisme guru?
6.    Bagaimana keterampilan profesionalisme guru?
7.    Bagaimana peran paleontology dalam meningkatkan profesionalisme guru biologi?

C.  Tujuan
Dalam makalah ini mempunyai tujuan yang disesuaikan dengan rumusan masalah yaitu
1.      Mengetahui pengertian paleontologi
2.      Mengetahui ruanglingkup paleontologi
3.      Mengetahui konsep dasar paleontologi
4.      Mengetahui ilmu yang berkaitan dengan paleontologi
5.      Mengetahui pengertian profesionalisme guru
6.      Mengetahui keterampilan profesionalisme guru
7.      Mengetahui peran paleontologi dalam meningkatkan profesionalisme guru biologi






















BAB II
PEMBAHASAN

A.  Pengertian Paleontologi
Paleontologi berasal dari kata paleo yang artinya masa lampau, onto yang artinya kehidupan dan logos yang artinya adalah ilmu. Jadi secara umum paleontologi berarti ilmu yang mempelajari tentang masa lampau.
Paleontologi adalah ilmu yangluk hidup purba yang biasanya adalah dengan mempelajari fosil-fosilnya. Paleontologi adalah mempelajari fosil makh untuk mempelajari jejak kehidupan dan segala sesuatu tentang zaman purba. Secara sempit, Paleontologi dapat diartikan ilmu mengenai fosil sebab jejak kehidupan zaman purba terekam dalam fosil.
Fosil adalah sisa kehidupan purba yang terawetkan secara alamiah dan terekam pada bahan-bahan dari kerak bumi.sisa kehidupan tersebut dapat berupa cangkang binatang,jejak atau cetakan yang mengalami pembentukan atau penggantian oleh mineral. Catatan fosil (fossil record) adalah susunan teratur di mana fosil mengendap dalam lapisan atau strata, pada batuan sedimen yang menandai berlalunya waktu geologis.Semakin atas letak strata tempat fosil ditemukan,semakin muda usia fosil tersebut.

B.  Ruanglingkup Paleontologi
Secara umum paleontologi dapat digolongkan menjadi dua yaitu
1.    Paleobotani
Paleobotani adalah ilmu yang mempelajari fosil tumbuhan. Kajian Paleobotani meliputi aspek fosil tumbuhan, rekonstruksi taksa, dan sejarah evolusi dunia tumbuhan.
Tujuan mempelajari Paleobotani adalah:
a.    Rekonstruksi sejarah dunia tumbuhan.
Hal ini dapat dilakukan karena fosil tumbuhan dari suatu kolom geologis tertentu berbeda dengan yang terdapat pada kolom geologis lainnya. Dengan demikian dapat diketahui jenis tumbuhan yang ada dari waktu ke waktu, atau dengan kata lain dapat diketahui sejarahnya, khususnya mengenai kapan kelompok tumbuhan tersebut mulai muncul di muka bumi, kapan perkembangan maksimalnya, dan kapan kelompok tumbuhan tersebut punah.
b.      keperluan analisa pola dan suksesi vegetasi dari waktu ke waktu.
c.       analisa endapan dari masa karbon khususnya yang mengandung sisa tumbuhan, yang berpotensi dalam presiksi sifat- sifat batubara. Dengan demikian dapat diketahui macam batubara serta dari tumbuhan apa batubara tersebut berasal.
d.      dapat melakukan dedukasi mengenai aspek-aspek perubahan iklim.
Dengan cara ini maka dimungkinkan untuk merekonstruksi lingkungan masa lampau beserta perubahan-perubahan yang terjadi, dan juga untuk mempelajari hubungan antara tumbuhan dengan hewan yang menghuni lingkungan tersebut. Salah satu perubahan iklim yang seringkali dapat diungkap dengan pendekatan ini adalah perubahan ternperatur rata-rata.
2.    Paleozoologi (hewan vertebrata dan invertebrata)
Tujuan dari mempelajari paleozoology adalah
a.       Rekonstruksi sejarah kehidupan pada masa lampau baik di bidang hewan dan perkembangan manusia. Proses rekonstruksi kehidupan dilakukan melalui rekonstruksi fosil karena fosil ditemukan dalam lapisan/strata geologis yang berlainan sehingga dapat diketahui perkiraan waktu munculnya dan kehidupan makhluk yang telah memfosil tersebut.
b.      Analisa pola dan suksesi suatu vegetasi dari waktu ke waktu. Kehidupan pada masa purba di mana kondisi bumi masih belum stabil sangat memungkinkan terjadinya perubahan kondisi lingkungan yang ekstrim sehingga mempengaruhi kehidupan spesies dan vegetasi tanaman
c.       Analisa mengenai aspek–aspek perubahan iklim yang terjadi. Cara ini bermanfaat untuk merekonstruksi dampak perubahan iklim pada lingkungan, mempelajari bagaimana hubungan antara hewan dan tumbuhan yang hidup pada lingkungan tersebut.
d.       Analisa kehidupan biokultural manusia sejak manusia muncul di bumi, proses evolusinya melalui masa dan wilayah distribusinya seluas dan selama mungkin
e.        Analisa proses adaptif yang dilakukan makhluk hidup terhadap perubahan kondisi lingkungan, makhluk yang mampu beradapatasi akan terus bertahan walaupun peiode waktu geologis terus berjalan sedangkan yang tidak mampu beradaptasi akan punah. Proses adaptasi membuka zona adaptif yang baru yaitu suatu kumpulan kondisi hidup dan sumber daya baru yang memberikan banyak kesempatan yang sebelumnya tidak dimanfaatkan.
C.  Ilmu yang Berkaitan dengan Paleontologi
Sebagai satu cabang ilmu yang memiliki ruang lingkup kajian yang sangat luas, paleontologi tidak dapat berdiri sendiri dan memiliki kaitan yang sangat erat dengan cabang keilmuan yang lain antara lain adalah :
1.    Zoologi dengan berbagai cabang keilmuannya seperti mammalogi dan primatologi membantu dalam menganalisis fosil hewan yang ditemukan,sangat berkaitan dengan paleozoologi.
2.    Morfologi dibutuhkan sejak proses preparasi atau perbaikan fosil yang ditemukan dan rekonstruksi fosil sampai ke tingkat individu.
3.    Fisiologi dan Biokimia, ilmu ini penting untuk analisa nutrisi yang dimanfaatkan oleh manusia dan makhluk hidup zaman purba (paleonutrisi), proses dan siklus reproduksi,jarak imunologis serta identifikasi biokimiawi.
4.    Arkeologi merupakan ilmu yang mempelajari kebudayaan ( manusia ) pada masa lampau melalui kajian sistematis atas data bendawi yang ditemukan. Peninggalan arkeologis ini sering disebut artefak yaitu alat yang dipakai manusia untuk mengeksploitasi lingkungan. Ilmu ini sangat berkaitan dengan paleontologi karena bermanfaat untuk mempelajari kebudayaan dan mengenali alat yang dipakai oleh manusia purba.
5.    Geologi, ilmu yang mempelajari segala sesuatu tentang lapisan pembentuk bumi, proses pembentukannya yang menjadi acuan penentuan umur relatif suatu fosil atau artefak peninggalan manusia purba. Penentuan umur relatif berdasar skala waktu geologis dengan urutan sejarah yang konsisten dan terdiri dari empat zaman yaitu Prakambrium, Paleozoikum, Mesozoikum dan Senozoikum.
6.    Radiologi, ilmu ini berguna dalam metode penentuan umur radiometrik yang dipakai untuk menentukan umur batuan dan fosil dalam skala waktu absolut / sebenarnya. Metode ini berdasarkan kandungan isotop suatu unsur dalam fosil yang terkumpul saat organisme masih hidup.
D.  Konsep Dasar Paleontologi
Konsep dasar paleontologi adalah
a.       Taksonomi
adalah pengelompokan organisme berdasarkan kesamaan ciri fisik tertentu. Dalam penyebutan organisme sering dipergunakan istilah taksa apabila tingkatan taksonominya belum diketahui. Unit terkecil dalam taksonomi adalah spesies, sedangkan unit tertinggi adalah kingdom. Diantara unit-unit baku dapat ditambahkan super jika terletak di atas unit baku, contoh: super kingdom, merupakan unit yang lebihtinggi dari kingdom. Jika ditambahkan sub terletak di bawah unit baku, contoh: subfilum, terdapat di bawah unit filum.
b.      Konsep Spesies.
Pemberian nama di dasarkan pada ciri fisik, dapat berupa sebagai berikut
1.       Bentuk tubuh
Turritella angulata, memperlihatkan bentuk tubuh turreted (meninggi) dan menyudut pada kamarnya.
2.       Struktur
Tubipora musica, memperlihatkan struktur tubuh berpipa (tube) dan terangkai seperti alat musik (musica).
3.       Geografis
Pemberian nama yang didasarkan pada lokasi dimana fosil tersebut pertama kali diketemukan. Contoh:Fussulina sumatrensis, Fussulina yang diketemukan di sumatera.
4.       Personal
Mencantumkan nama penemunya. Contoh:Discoatermartinii, Martini adalah penemu fosil tersebut
c.    Filogeni
Filogeni adalah ilmu yang mempelajari hubungan kekerabatan suatu organisme dengan organisme lainnya. Hubungan tersebut ditentukan berdasarkan morfologi hingga DNA. Filogeni sangat diperlukan dalam mempelajari proses evolusi dan penyusunan taksonomi. Evolusi sendiri dapat diartikan sebagai perubahan yang berangsur-angsur dari suatuorganisme menuju kepada kesesuaian dengan waktu dan tempat. Jadi evolusi sendirimerupakan proses adaptasi dari suatu organisme terhadap lingkungannya.
Metode Penyusunan Filogeni
a)    Fenetik,Metode penyusunan filogeni dengan pendekatan analisa numerik. Pendekatan tersebut meliputi penghitungan Indeks ketidaksamaan, Indeks keanekaragaman, Anaisa pola dan berbagai indeks yang lain. Dalam pendekatan fenetik semua subyek dan faktor yang dianalisispunya kedudukan yang sama.
b)   Kladistik, Metode ini muncul atas dasar pemikiran bahwa proses alamiah akan selalu mengambil jalan yang paling singkat. Dalam kladistik setiap ciri fisik mempunyai tingkatan yang berbeda
d.   Metode Identifikas
Morfologi yaitu pendekatan morfologi berupa deskriptif kualitatif. Meliputi bentuk tubuh, struktur yang biasanya berkembang, dan sebagainya.
Biometri, berupa pendekatan secara kuantitatif, yaitu berdasarkan ukuran tubuh dari suatu organisme

E.  Pengertian Profesionalisme Guru
Istilah  profesionalisme  berasal  dari  profession.   Menurut Arifin (1995:3) mengatakan bahwa  profession mengandung arti yang  sama dengan kata occupation atau pekerjaan yang memerlukan keahlian yang diperoleh melalui pendidikan atau latihan khusus. Sedangkan menurut Kunandar  (2007:45) bahwa  profesionalisme  berasal dari  kata  profesi  yang artinya  suatu  bidang  pekerjaan  yang  ingin  atau  akan  ditekuni  oleh seseorang.  Jadi,  profesi  adalah suatu  pekerjaan  atau  jabatan  yang  menuntut  keahlian  tertentu.
Profesionalisme berasal dari kata profesi yang artinya suatu bidang pekerjaan yang ingin atau ditekuni oleh seseorang. Profesi juga diartikan sebagai suatu jabatan atau pekerjaan tertentu yang mensyaratkan pengetahuan dan keterampilan khusus yang diperoleh dari pendidikan akademis yang intensif (Webstar, 1989).
Dari penjelasan di atas, profesionalisme guru adalah  seorang guru yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang studi serta telah berpengalaman dalam mengajar sehingga mampu melakukan tugas dan fungsinya  sebagai  guru dengan  kemampuan  yang  maksimal  serta  memiliki  keterampilan  sesuai dengan kriteria guru profesional, dan profesinya itu telah menjadi sumber mata pencaharian.
Guru yang professional adalah guru yang memiliki keterampilan yang dipersyaratkan untuk melakukan tugas pendidikan dan pengajaran. Keterampilan disini meliputi pengetahuan, sikap, dan keterampilan professional, baik yang bersifat pribadi, social, maupun akademis

F.   Keterampilan Profesionalisme Guru
Dalam buku yang ditulis oleh E. Mulyasa (2008:3) menyebutkan keterampilan yang harus dimiliki seorang guru itu mencakup empat aspek keterampilan sebagai berikut :
1.    Keterampilan pedagogik
Dalam Standar Nasional Pendidikan, penjelasan Pasal 28 ayat (3) butir a dikemukakan bahwa keterampilan pedagogik adalah kemapuan mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
Keterampilan pedagogik ialah kemampuan dalam pengolahan pembelajaran peserta didik yang meliputi yaitu pemahaman wawasan atau landaskan kependidikan, pemahaman terhadap peserta didik, pengembangan kurikulum atau silabus, perancangan pembelajaran, pemanfaatan teknologi pembelajaran, evaluasi proses dan hasil belajar, pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
2.    Keterampilan Kepribadian
Kepribadian adalah keseluruhan dari individu yang terdiri dari unsur psikis dan fisik. Dalam makna demikian, seluruh sikap dan perbuatan seseorang merupakan satu gambaran dari kepribadian orang itu, asal dilakukan secara sadar. Keterampilan kepribadian guru mencakup sikap (attitude), nilai-niai (value), kepribadian (personality) sebagai elemen perilaku (behaviour) dalam kaitannya dengan performance yang ideal sesuai dengan bidang pekerjaan yang dilandasi oleh latar belakang pendidikan, peningkatan kemampuan dan pelatihan, serta legalitas kewenangan mengajar.
Dalam Standar Nasional Pendidikan, penjelasan Pasal 28 ayat (3) butir b, dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan keterampilan kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik dan berakhlak mulia.
3.    Keterampilan Profesional
Keterampilan profesional meliputi pengatahuan, sikap, dan keterampilan profesional, baik yang bersifat pribadi, sosial, maupun akademis. Dalam Standar Nasional Pendidikan, penjelasan Pasal 28 ayat (3) butir c dikemukakan bahwa yang dimaksud keterampilan profesional adalah kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan membimbing pesrta didik memenuhi standar keterampilan yang ditetapkan dalam Standar Nasional Pendidikan.
Menurut Cooper ada 4 komponen keterampilan profesional, yaitu; mempunyai pengetahuan tentang belajar dan tingkah laku manusia, mempunyai pengetahuan dan menguasai bidang studi yang dibinanya, mempunyai sikap yang tepat tentang diri sendiri, sekolah, teman sejawat dan bidang studi yang dibinanya, dan mempunyai keterampilan dalam teknikl mengajar.
Menurut (Johnson, 1980) keterampilan profesional mencakup yaitu penguasaan materi pelajaran yang terdiri atas penguasaan bahan yang harus diajarkan dan konsep-konsep dasar keilmuan yang diajarkan dari bahan yang diajarkannya itu, penguasaan dan  penghayatan atas landasan dan wawasan kependidikan dan keguruan, dan penguasaan proses-proses kependidikan, keguruan pembelajaran siswa.
4.    Keterampilan Sosial
Dalam Standar Nasional Pendidikan, penjelasan Pasal 28 ayat (3) butir d  dikemukakan  bahwa  yang  dimaksud  dengan  keterampilan  social adalah kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama  pendidik, tenaga kependidikan, orang tua atau wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.
Keterampilan sosial dalam kegiatan belajar ini berkaitan erat dengan kemampuan guru dalam berkomunikasi dengan masyarakat di sekitar sekolah dan masyarakat tempat guru tinggal sehingga peranan dan cara guru berkomunikasi di masyarakat diharapkan memiliki karakteristik tersendiri yang sedikit banyak berbeda dengan orang lain yang bukan guru.
Ruang lingkup keterampilan sosial seperti tersebut di atas maka inti dari pada keterampilan sosial itu adalah kemampuan guru melakukan interaksi sosial melalui komunikasi. Guru dituntut berkomunikasi dengan sesame guru, siswa, orang tua siswa, dan masyarakat sekitar, dll. Jadi guru dituntut mengenal banyak kelompok sosial seperti kelompok bermain, kelompok kerjasama, alim ulama, pengajian, remaja, dll. Pengertian interaksi sosial ini amat berguna dalam memperhatikan dan mempelajari berbagai masalah masyarakat, termasuk masalah pembelajaran.

G. Peran Paleontologi dalam Meningkatkan Profesionalisme Guru Biologi
Penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa peran Paleontologi dalam meningkatkan profesionalisem guru Biologi adalah dengan pengembangan dapat dilakukan dengan cara menyesuaikan dengan pembelajaran biologi di sekolah terutama Sekolah Menengah Atas (SMA) yang mempunyai karakteristik pembelajaran yang dikembangkan melalui kemampuan berpikir analitis,  induktif, dan deduktif untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan peristiwa alam sekitar. 
Guru dianggap professional apabila mempunyai empat keterampilan meliputi pengetahuan, sikap, dan keterampilan professional. Dari keempat keterampilan di atas yang berhubungan dengan ilmu Paleontologi yaitu keterampilan professional yang meliputi memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugasnya, memiliki keterampilan yang diperlukan sesuai dengan bidang tugasnya, memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat. Dari penjelasan di atas dapat dilihat bahwa Paleontologi dapat menambah dapat menambah pengetahuan seorang guru secara luas. Pada Paleontologi juga mempelajari tentang fosil tumbuhan dan fosil hewan invertebrate dan vertebrata yang tumbuhan dan hewan termasuk dalam objek Biologi. Selain itu, dengan adanya penemuan fosil dapat dijadikan taksonomi untuk klasifikasi yang juga dipelajari dalam Biologi untuk mengklasifikasikan tumbuhan dan hewan di dunia agar mudah dikenali, untuk mengetahui kekerabatan antar spesies. Paleontology juga mempelajari evolusi yang masuk dalam Standar kompetensi SMA.
Oleh karena itu, peran paleontology dalam meningkatkan profesionalisem guru Biologi sangat penting untuk menambah wawasan dan ilmu yang berhubungan dengan Biologi.





BAB III
Penutup

Paleontologi adalah ilmu yangluk hidup purba yang biasanya adalah dengan mempelajari fosil-fosilnya. Paleontologi adalah mempelajari fosil makh untuk mempelajari jejak kehidupan dan segala sesuatu tentang zaman purba. Secara sempit, Paleontologi dapat diartikan ilmu mengenai fosil sebab jejak kehidupan zaman purba terekam dalam fosil.
Secara umum paleontologi dapat digolongkan menjadi dua yaitu Paleobotani (tumbuhan) dan Paleozoologi (hewan). Paleobotani adalah ilmu yang mempelajari fosil tumbuhan. Paleozoologi adalah ilmu yang mempelajari fosil hewan vertebrata dan invertebrate.
Sebagai satu cabang ilmu yang memiliki ruang lingkup kajian yang sangat luas, paleontologi tidak dapat berdiri sendiri dan memiliki kaitan yang sangat erat dengan cabang keilmuan yang lain antara lain adalah Zoologi, Morfologi, Fisiologi dan Biokimia, Arkeologi, Geologi, Radiologi.
Profesionalisme guru adalah  seorang guru yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang studi serta telah berpengalaman dalam mengajar sehingga mampu melakukan tugas dan fungsinya  sebagai  guru dengan  kemampuan  yang  maksimal  serta  memiliki  keterampilan  sesuai dengan kriteria guru profesional, dan profesinya itu telah menjadi sumber mata pencaharian.
Guru yang professional adalah guru yang memiliki keterampilan yang dipersyaratkan untuk melakukan tugas pendidikan dan pengajaran. Keterampilan disini meliputi pengetahuan, sikap, dan keterampilan professional, baik yang bersifat pribadi, sosial, maupun akademis.
Keterampilan pedagogik ialah kemampuan dalam pengolahan pembelajaran peserta didik yang meliputi yaitu pemahaman wawasan atau landaskan kependidikan, pemahaman terhadap peserta didik, pengembangan kurikulum atau silabus, perancangan pembelajaran, pemanfaatan teknologi pembelajaran, evaluasi proses dan hasil belajar, pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
Keterampilan kepribadian guru mencakup sikap (attitude), nilai-niai (value), kepribadian (personality) sebagai elemen perilaku (behaviour) dalam kaitannya dengan performance yang ideal sesuai dengan bidang pekerjaan yang dilandasi oleh latar belakang pendidikan, peningkatan kemampuan dan pelatihan, serta legalitas kewenangan mengajar.
Keterampilan profesional mencakup yaitu penguasaan materi pelajaran yang terdiri atas penguasaan bahan yang harus diajarkan dan konsep-konsep dasar keilmuan yang diajarkan dari bahan yang diajarkannya itu, penguasaan dan  penghayatan atas landasan dan wawasan kependidikan dan keguruan, dan penguasaan proses-proses kependidikan, keguruan pembelajaran siswa.
Keterampilan sosial dalam kegiatan belajar ini berkaitan erat dengan kemampuan guru dalam berkomunikasi dengan masyarakat di sekitar sekolah dan masyarakat tempat guru tinggal sehingga peranan dan cara guru berkomunikasi di masyarakat diharapkan memiliki karakteristik tersendiri yang sedikit banyak berbeda dengan orang lain yang bukan guru.
Guru dianggap professional apabila mempunyai empat keterampilan meliputi pengetahuan, sikap, dan keterampilan professional. Dari keempat keterampilan di atas yang berhubungan dengan ilmu Paleontologi yaitu keterampilan professional yang meliputi memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugasnya, memiliki keterampilan yang diperlukan sesuai dengan bidang tugasnya, memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat. Dari penjelasan di atas dapat dilihat bahwa Paleontologi dapat menambah dapat menambah pengetahuan seorang guru secara luas. Pada Paleontologi juga mempelajari tentang fosil tumbuhan dan fosil hewan invertebrate dan vertebrata yang tumbuhan dan hewan termasuk dalam objek Biologi. Selain itu, dengan adanya penemuan fosil dapat dijadikan taksonomi untuk klasifikasi yang juga dipelajari dalam Biologi untuk mengklasifikasikan tumbuhan dan hewan di dunia agar mudah dikenali, untuk mengetahui kekerabatan antar spesies. Paleontology juga mempelajari evolusi yang masuk dalam Standar kompetensi SMA.
Oleh karena itu, peran paleontology dalam meningkatkan profesionalisem guru Biologi sangat penting untuk menambah wawasan dan ilmu yang berhubungan dengan Biologi.







DAFTAR PUSTAKA
Arifin. 1995. Kapita Selekta Pendidikan (Islam dan Umum). Jakarta: Bumi Aksara
Christiyoda. 2010. Diakses hari Rabu pada tanggal 12 Desember 2012 pada http://christiyoda.blogspot.com/2010/10/paleontologi.html
E, Mulyasa. 2008. Standar  Keterampilan  dan  Sertifikasi Guru. Bandung: PT.  Remaja  Rosda Karya
Kunandar, Guru  Profesional  Implementasi  Kurikulum  Tingkat  Satuan  Pendidikan (KTSP) dan Persiapan Menghadapi Sertifikasi Guru, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007
Nicholas. 2010. Diakses pada pada tanggal 12 Desember 2012 pada http://yoen-niechollehah.blogspot.com/2010/11/peran-paleontologi-dalam-perkembangan.html
Sukmanotes.2010.  Diakses pada hari Rabu, tanggal 12 Desember 2012 pada http://sukmanotes.blog.uns.ac.id/2010/10/20/paleontologi/
UU RI Nomor 20 Tahun 2003, Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta: CV Mini Jaya Abadi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar