Selasa, 08 Januari 2013

Laporan Museum Sangiran


PHALEONTOLOGI
Museum Sangiran
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Phaleontologi








FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2011

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Museum Sangiran adalah museum arkeologi yang terletak di Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Museum ini berdekatan dengan area situs fosil purbakala Sangiran yang merupakan salah satu Situs Warisan Dunia. Situs Sangiran memiliki luas mencapai 56 km² meliputi tiga kecamatan di Sragen (Gemolong, Kalijambe, dan Plupuh) serta Kecamatan Gondangrejo  yang masuk wilayah Kabupaten Karanganyar. Situs Sangiran berada di dalam kawasan Kubah Sangiran yang merupakan bagian dari depresi Solo, di kaki Gunung Lawu (17 km dari kota Solo).
Museum Sangiran beserta situs arkeologinya, selain menjadi obyek wisata yang menarik juga merupakan arena penelitian tentang kehidupan pra sejarah terpenting dan terlengkap di Asia, bahkan dunia. Dalam museum ini dapat diperoleh informasi lengkap tentang pola kehidupan manusia purba di Jawa yang menyumbang perkembangan ilmu pengetahuan seperti Antropologi, Arkeologi, Geologi, Paleoanthropologi. Di lokasi situs Sangiran ini pula, untuk pertama kalinya ditemukan fosil rahang bawah Pithecantropus Erectus (salah satu spesies dalam taxon Homo erectus) oleh arkeolog Jerman, Profesor Von Koenigswald.  
Lebih menarik lagi, di area situs Sangiran ini pula jejak tinggalan berumur 2 juta tahun hingga 200.000 tahun masih dapat ditemukan hingga kini, sehingga para ahli dapat merangkai sebuah benang merah sebuah sejarah yang pernah terjadi di Sangiran secara berurutan. Koleksi yang tersimpan di museum ini mencapai 13.806 buah yang tersimpan pada dua tempat yaitu 2.931 tersimpan di ruang pameran dan 10.875 di dalam ruang penyimpanan.
Museum sangiran menyumbang perkembangan ilmu pengetahuan seperti Antropologi, Arkeologi, Geologi, Paleoanthropologi. Oleh karena itu, dalam makalah ini akan dibahas tentang informasi tentang museum sangiran.

B.  Rumusan Masalah
Dalam makalah ini mempunyai rumusan masalah yaitu sebagai berikut;
1.      Dimana wilayah Sangiran?
2.      Bagaimana sejarah situs sangiran?
3.      Bagaimana proses terbentuknya sangiran?
4.      Bagaimana formasi lapisan sangiran?
5.      Bagaimana pengungkap situs sejarah sangiran ?
6.      Bagaimana pemeliharaan terhadap sangiran?
7.      Bagaimana sumbangan sangiran untuk masyarakat sekitar dan ilmu pengetahuan?
8.      Apa koleksi – koleksi museum sangiran?
9.      Apa pengertian fosil, manfaat dan syarat terbentuknya fosil?
10.  Bagaimana proses pembentukan fosil?
11.  Bagaimana kehidupan di bumi?

C.  Tujuan
Tujuan dalam makalah ini adalah sebagai berikut;
1.      Untuk mengetahui wilayah.
2.      Untuk mengetahui sejarah situs sangiran
3.      Untuk mengetahui proses terbentuknya sangiran.
4.      Untuk mengetahui formasi lapisan sangiran
5.      Untuk mengetahui pengungkap situs sejarah sangiran.
6.      Untuk mengetahui pemeliharaan terhadap sangiran.
7.      Untuk mengetahui sumbangan sangiran untuk masyarakat sekitar dan ilmu pengetahuan.
8.      Untuk mengetahui koleksi – koleksi museum sangiran
9.      Untuk mengetahui pengertian fosil, manfaat dan syarat terbentuknya fosil.
10.  Untuk mengetahui proses pembentukan fosil
11.  Untuk mengetahui kehidupan di bumi.
BAB II
PEMBAHASAN


A.  Wilayah Sangiran Museum Sangiran
Sangiran adalah sebuah situs arkeologi di Jawa, Indonesia. Sangiran memiliki area sekitar 48 km². Secara fisiografis sangiran terletak pada zona Central Depression, yaitu berupa dataran rendah yang terletak antara gunung api aktif, Merapi dan Merbabu di sebelah barat serta Lawu di sebelah timur.
Secara administratif Sangiran terletak di Kabupaten Sragen (meliputi 3 Kecamatan yaitu Kecamatan Kalijambe, Gemolong dan Plupuh serta Kecamatan Gondangrejo) dan kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Sangiran terletak di desa Krikilan, Kec. Kalijambe ( + 40 km dari Sragen atau + 17 km dari Solo) situs ini menyimpan puluhan ribu fosil dari jaan pleistocen ( + 2 juta tahun lalu).
Situs Sangiran merupakan daerah perbukitan yang mencakup kawasan seluas 32 km² dengan bentangan arah dari utara ke selatan kurang lebih 8 km dan dari barat ke timur kurang lebih 4 km². Daerah ini meliputi 12 kelurahan di 4 kecamatan, yaitu kecamatan kalijember, gemolong, plupuh, dan godangrejo. Daerah sangiran memiliki sebuah sungai yang membelah daerah tersebut menjadi dua yaitu  kali cemara yang bermuara di bengawan solo.
Gb 1 : Peta lokasi Situs Manusia Purba SANGIRAN
Fosil-fosil purba ini merupakan 65 % fosil hominid purba di Indonesia dan 50 % di seluruh dunia. Hingga saat ini telah ditemukan lebih dari 13.685 fosil 2.931 fosil ada di Museum, sisanya disimpan di gudang penyimpanan. Pada tahun 1977 Sangiran ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia sebagai cagar budaya, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.070/0/1977, tanggal 5 Maret 1977. Selanjutnya keputusan itu dikuatkan oleh Komite World Heritage UNESCO pada peringatannya yang ke-20 di Merida, Mexico yang menetapkan kawasan Sangiran sebagai kawasan World Heritage (warisan dunia) No. 593.

B.  Sejarah Situs Sangiran
Sejarah Museum Sangiran bermula dari kegiatan penelitian yang dilakukan oleh Von Koeningswald sekitar tahun 1930-an. Di dalam kegiatannya Von Koeningswald dibantu oleh Toto Marsono, Kepala Desa Krikilan pada masa itu. Setiap hari Toto Marsono atas perintah Von Koeningswald mengerahkan penduduk Sangiran untuk mencari “balung buto” (Bahasa Jawa = tulang raksasa). Demikian penduduk Sangiran mengistilahkan temuan tulang-tulang berukuran besar yang telah membatu yang berserakan di sekitar ladang mereka. Balung buto tersebut adalah fosil yaitu sisa-sisa organisme atau jasad hidup purba yang terawetkan di dalam bumi.
Fosil-fosil tersebut kemudian dikumpulkan di Pendopo Kelurahan Krikilan untuk bahan pnelitian Von Koeningswald, maupun para ahli lainnya. Fosil-fosil yang dianggap penting dibawa oleh masing-masing peneliti ke laboratorium mereka, sedang sisanya dibiarkan menumpuk di Pendopo Kelurahan Krikilan.
Setelah Von Koeningswald tidak aktif lagi melaksanakan penelitian di Sangiran, kegiatan mengumpulkan fosil masih diteruskan oleh Toto Marsono sehingga jumlah fosil di Pendopo Kelurahan semakin melimpah. Dari Pendopo Kelurahan Krikilan inilah lahir cikal-bakal Museum Sangiran.
Untuk menampung koleksi fosil yang semakin hari semakin bertambah maka pada tahun 1974 Gubernur Jawa Tengah melalui Bupati Sragen membangun museum kecil di Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Saragen di atas tanah seluas 1000 m². Museum tersebut diberi nama “Museum Pestosen”. Seluruh koleksi di Pendopo Kelurahan Krikilan kemudian dipindahkan ke Museum tersebut. Saat ini sisa bangunan museum tersebut telah dirombak dan dialihfungsikan menjadi Balai Desa Krikilan.
Sementara di Kawasan Cagar Budaya Sangiran sisi selatan pada tahun 1977 dibangun juga sebuah museum di Desa Dayu, Kecamatan Godangrejo, Kabupaten Karanganyar. Museum ini difungsikan sebagai basecamp sekaligus tempat untuk menampung hasil penelitian lapangan di wilayah Cagar Budaya Sangiran sisi selatan. Saat ini museum tersebut sudah dibongkar dan bangunannya dipindahkan dan dijadikan Pendopo Desa Dayu.
Tahun 1983 pemerintah pusat membangun museum baru yang lebih besar di Desa Ngampon, Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen. Kompleks Museum ini didirikan di atas tanah seluas 16.675 m². Bnagunannya antara lain terdiri dari Ruang Pameran, Ruang Pertemuan/ Seminar, Ruang Kantor/ Administrasi, Ruang Perpustakaan, Ruang Storage, Ruang Laboratorium, Ruang Istirahat/ Ruang Tinggal Peneliti, Ruang Garasi, dan Kamar Mandi. Selanjutnya koleksi yang ada di Museum Plestosen Krikilan dan Koleksi di Museum Dayu dipindahkan ke museum yang baru ini. Museum ini selain berfungsi untuk memamerkan fosil temuan dari kawasan Sangiran juga berfungsi untuk mengkonservasi temuan yang ada dan sebagai pusat perlindungan dan pelestarian kawasan Sangiran.
Tahun 1998 Dinas Praiwisata Propinsi Jawa Tengah melengkaspi Kompleks Museum Sangiran dendan Bnagunan Audio Visual di sisi timur museum. Dan tahun 2004 Bupati Sragen mengubah interior Ruang Knator dan Ruang Pertemuan menjadi Ruang Pameran Tambahan.
Tahun 2003 Pemerintah pusat merencanakan membuat museum yang lebih representative menggantikan museum yang ada secara bertahap. Awal tahun 2004 ini telah selesai didirikan bangunan perkantoran tiga lantai yang terdiri dari ruang basemen untuk gudang, lantai I untuk Laboratorium, dan lantai II untuk perkantoran. Program selanjutnya adalah membuat ruang audio visual, ruang transit untuk penerimaan pengunjung, ruang pameran bawah tanah, ruang pertemuan, perpustakaan, taman purbakala, dan lain-lain.

C.  Proses Terbentuknya Sangiran
Pada awalnya sangiran merupakan lautan dangkal. Pada saat itu keadaan bumi masih belum stabil seperti sekarang, di beberapa bagian bumi seringkali mendapatkan pergerakan di dalam perut bumi yang disebabkan adanya dorongan tekanan endogen. Sangiran juga mengalami hal serupa, karena adanya dorongan tenaga endogen (dari dalam bumi) terjadi pengankatan dan pelipatan pada permukaan laut sangiran. Akibat dn pelipatan permukaan maka terbentuklah daratan-daratan yang mengisolasi sebagaian lautan tersebut sehingga menjadi danau dan rawa-rawa.
Saat terjadinya masa glacial (pembekuan), permukaan air laut menyusut, itu disebabkan karena adanya pembekuan es di kutub utara maka muncullah daratan di permukaan bumi. Danau dan rawa sangiran yang terbentuk dari lautan dangkal juga menjadi daratan kering.
Proses pembentukan situs sangiran erat kaitannya dengan aktivitas gunung lawu tua. Kubah sangiran diperkirakan terbentuk akibat gaya kompresi dari runtuhan gunung Lawu tua, gaya endogen berupa pengakatan dan pelipatan tanah serta gaya gravitasi bumi. Gaya kompresi yang sama juga menyebabkan terbentuknya kubah-kubah lain seperti: Kubah Gemolong, Kubah Gamping, Kubah Bringinan, Kubah Gesingan, dan Kubah Munggur.
Tenaga endogen yang terjadi berulang-berulang mengakibatkan permukan tanah di sangiran naik akibatnya adanya dorongan di dalam dan membentuk bukit. Kemudian karena aktivitas gunung lawu membuat tanah perbukitan longsor dan membentuk kubah, tanah di sekitar sungai cemarapun ikut longsor. Akibat dari hal tersebut, terbentuklah lapisan tanah yang berbeda dari lapisan tanah permukaan. Lapisan tanah yang terbentuk adalah lapisan dari jaman purbakala dimana hsil dari terbentuknya tanah sangiran membuat para ahli purbakala dan masyarakat sekitar menemukan bukti-bukti kehidupan masa prasejarah. Higga kini lapisan tanah (stratigrafi) yang dapat ditemukan dan diteliti terdapat 4 lapis.
Situs sangiran merupakan daerah perbukitan yang terbentuk dari fragmen-fragmen batu gamping foraminifera dan batu pasir yang tercampur dengan Lumpur saat masa halosen. Juga yang endapan alivial yang terdiri dari campuran lempung, pasir, kerikil, dan krakal dengan ketebalan kurang lebih 2 meter yang dapat terlihat di sungai cemara. Sungai cemara yang mengalir didaerah sangiran merupakan sungai anteseden yang menyayat kubah sangiran. Hal ini menyebabkan struktur kubah dan stratifigrafi tanah daerah sangiran dapat dipelajari dengan baik.
Tersingkapnya tanah di tepi sungai cemara menunjukan aktivitas erosi dan sedimentasi yang intensif pada masa sekarang. Proses erosi tersebut mengakibatkan munculnya fosil-fosil binatang maupun manusia purba di permukaan tanah sehingga sering ditemukan fosil-fosil setelah turun hujan.
Akibat dari dorongan tenaga endogen pada awalnya, aktivitas erosi dan sedimentasi yang tinggi maka menyebabkan pengangkatan dan pelipatan tanah sangiran, sehingga lapisan tanah sangiran terbagi dari 4 lapisan (dari lapisan teratas) yaitu Formasi Notopuro, Formasi Kabuh, Formasi Pucangan dan Formasi Kalibeng.

D.  Formasi Lapisan Sangiran
Secara struktural Sangiran merupakan daerah yang mengalami pengangkatan dan perlipatan yang kemudian membentuk struktur kubah terbalik, yang seiring berjalannya waktu mengalami erosi. Adanya pengangkatan ini terjadi karena proses penekanan dari kiri ke kanan oleh tenaga eksogen dan dari bawah ke atas oleh tenaga endogen. Erosi menyebabkan tersingkapnya lapisan-lapisan tanah secara alamiah. Dimana di dalamnya terkandung informasi tentang kehidupan sejarah manusia purba dengan segala yang ada di sekelilingnya (pola hidup dan binatang-binatang yang hidup bersamanya).
Keistimewaan Sangiran, berdasarkan penelitian para ahli Geologi dulu pada masa purba merupakan hamparan lautan. Akibat proses geologi dan akibat bencana alam letusan Gunung Lawu, Gunung Merapi, dan Gunung Merbabu, Sangiran menjadi daratan. Hal tersebut dibuktikan dengan lapisan-lapisan tanah pembentuk wilayah Sangiran yang sangat berbeda dengan lapisan tanah di tempat lain. Tiap-tiap lapisan tanah tersebut ditemukan fosil-fosil menurut jenis dan jamannya. Misalnya, Fosil binatang laut banyak diketemukan di Lapisan tanah paling bawah, yang dulu merupakan lautan.

Gambar 1. Proses terbentuknya Kubah Sangiran

Gambar 2. Sangiran Dome
Adapun lapisan tanah yang tersingkap di wilayah Sangiran terbagi menjadi 4 lapisan (dari lapisan terbawah) yaitu Formasi Kalibeng, Formasi Pucangan, Formasi Kabuh, dan Formasi Notopuro.
1.    Formasi Kalibeng
Formasi kalibeng berumur 3.000.000-1.800.000 tahun yang lalu. Formasi tanah ini hanya tersingkap pada bagian Kalibeng atas (Pliocene atas). Formasi ini terdiri dari 4 lapisan. Untuk lapisan terbawah ketebalan mencapai 107 meter merupakan endapan laut dalam berupa lempung abu-abu kebiruan dan lempung lanau dengan kandungan moluska laut. Lapisan kedua ketebalan 4-7 meter merupakan endapan laut dangkal berupa pasir lanau dengan kandungan fosil moluska jenis Turitella dan foraminifera. Lapisan ketiga berupa endapan batu gamping balanus dengan ketebalan 1-2,5 meter. Lapisan keempat berupa endapan lempung dan lanau hasil sedimentasi air payau dengan kandungan moluska jenis corbicula. Adanya kalkarenit dan kalsirudit menunjukkan bahwa formasi Kalibeng merupakan hasil endapan laut yang amat dangkal.
Gambar 3. Formasi Situs Sangiran
Formasi kalibeng merupakan endapan tertua di kubah sangiran, terdiri dari batu Napal Pasiran warna abu-abu kehitaman dan disisipi bau gamping balanus dan korbikula.
Ketebalan formasi kalibeng lebih dari 130 meter, kandungan fosilnya antara lain foraminifera, molusca laut. Dismaping itu juga banyak ditemukan gastropoda dan molusca air payau, ini menunjukan bahwa lingkungan pengendapannya adalah air payau (peralihan antara air asin dan air tawar). Makin keatas lapisan tersebut berubah menjadi semakin pasiran.
Mengandung ostrea berkulit tebal yang menunjukaan organisme ini hidup di pinggir laut. Lapisan berfasies pasiran diatas ditutupi oleh batu gamping balanus. Hewan ini hidup dizona anatar laut pasang dan surut. Sehingga dapat diperkirakan batu gamping ini diendapkan di lingkunagn tersebut. Lapisan teratas terdapat batu pasir yang mengandung korbuline, yaitu paleoypoda yang sering hidup di air tawar. Daru urutan fasies tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pada waktu pengendapannya berbagai lapisan tersbut yaitu formasi kalibeng mengalami susut laut (regresi) berubah menjadi daratan.
2.    Formasi Pucangan
Formasi Pucangan berumur 1.800.000-800.000 tahun yang lalu. Formasi ini terbagi menjadi dua yaitu lahar bawah dan lempung hitam. Formasi Pucangan lahar bawah ketebalannya berkisar 0,7-50 meter berupa endapan lahar dingin atau breksi vulkanik yang terbawa aliran sungai dan mengendapkan moluska air tawar di bagian bawah dan diatome di bagian atas. Pada lapisan ini juga terdapat fragmen batu lempung gampingan dari formasi Kalibeng.
Formasi Pucangan Atas ketebalan mencapai 100 meter berupa lapisan napal dan lempung yang merupakan pengendapan rawa-rawa, pada formasi ini terdapat sisipan endapan molusca marine yang menunjukkan bahwa pada waktu itu pernah terjadi transgresi laut. Formasi ini banyak mengandung fosil binatang vertebrata seperti gajah (Stegodon trigonocephalus), banteng (Bibos paleosondaicus), kerbau (Bubalus paleokarabau, Hippopotamidae dan Cervidae. Pada formasi Pucangan ini juga ditemukan fosi Homo erectus , fosil karapaks dan plastrón kura-kura.
Dua pasies pokok yang terdapat pada formasi ini adalah pasies batu lempung hitam laut dan pasies breksi yang terdiri dari vulkanik tufaan sampai pasiran. Pada pasies ini banyak ditemukan fosil vertebrata. Fragmen batuan berupa batu pasir gampingan dari formasi kalibeng jug dijumpai pada pasies breksi kalibeng bagian bawah. Keadaan ini menunjukan bahwa formasi kalibeng. Susunan tanah menurut J. Duyfjes, dari atas sampai kebawah sebagai berikut:
a.    Endapan batu pasir tufaan setebal 35 meter
b.    Batu pasir tufaan yang mengandung tanah liat dan napal yang berisis kerang laut setebal 10 meter.
c.    Lapisan lempung berwarna kehijauan setebal 5 meter.
d.   Batu pasir kasar, konglomerat atau batu adesit setebal 100 meter. Pada lapisan ini ditemukan fosil Pithecantropus (homo erectus).
e.    Endapan batu pasir tufaan dengan diselingi batu lempung.
f.     Napal dan batu pasir tufaan yang mengandung lempung dan molusca laut setebal 25 meter.
Pada formasi pucangan fosil tengkorak Pithecantropus Erectus, kemudian ditemukan juga fosil tengkorak Megantropus Paleojavanicus. Asosiasi hewan lain yang hidup berdampingan dengan kedua manusia purba adalah gajah, penyu, ikan hiu, badak, dll.
3.     Formasi Kabuh
Formasi Kabuh merupakan lapisan yang berumur 800.00-250.000 tahun yang lalu dan merupakan formasi yang paling banyak ditemukan fosil mamalia, manusia purba dan alat batu. Formasi ini terbagi menjadi dua yaitu grenzbank yang metupakan lapisan pembatas antara formasi Pucangan dengan Kabuh. Terdiri dari lapisan batu gamping konglomeratan yang berbentuk lensa-lensa dengan ketebalan 2meter. Di grenzbank banyak ditemukan fosil mamalia (Stegodon trigonocephalus, Bubalus paleokarabau, Duboisia santeng dll) dan fosil Hominidae. Formasi Kabuh atas ketebalan lapisannya sekitar 3-16 meter merupakan batu pasir dengan struktur silang siur yang menunjukkan hasil endapan sungai. Terjadi pada kala Pleistocene tengah.
Endapan kala plastosen tengan terkenal dengan nama formasi kabuh. Formasi ini memperlihatkan endapan yang berasal dari gunung Lawu tua,berupa: batu tufa, batu pasir, dan konglomerat. Ketebalan formasi sangat bervariasi antara 10-16 meter.
Alat-alat dari batu telah ditemukan pada formasi ini. Dengan ditemukan alat-alat batu tersbut menunjukan bahwa pithecanthropus pada saat itu sudag mengenal alat-alat perburuan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Formasi kabuh terdiri dari spesies fluviatil yang terdiri dari batu pasir dengan struktur silang-siur dan konglemaratrt. Formasi kabuh ini terletak di atas formasi pucangan secara tidak selaras.
4.    Formasi Notopuro
Formasi Notopuro terletak di di atas formasi Kabuh dan tersebar di bagian tas perbukitan di sekeliling Kubah Sangiran. Formasi ini tersusun oleh material vulkanis seperti batu pasir vulkanis, konglomerat dan breksi dengan fragmen batuan beku andesit yang berukuran brangkal hingga bonkah. Ketebalan lapisan mencapai 47 meter dan terbagi menjadi tiga lapisan yaitu lapisan Formasi Notopuro bawah dengan ketebalan 3,2-28,9 meter, Formasi Notopuro tengah dengan ketebalan maksimal 20 meter dan Formasi Notopuro atas dengan ketebalan 25 meter. Pada Formasi Notopuro ini sangat jarang dijumpai fosil. Formasi ini ditafsirkan sebagai hasil pengendapan darat yang sangat dipengaruhi oleh aktivitas vulkanik dan terjadi pada kala Pleistocene atas.
Formasi Notopuro adalah lapisan tanah dikala plastosen atas yang berumur 10.000-125.000 tahun yang lalu. Formasi Notopuro adalah lapisan yang terbentuk oleh endapan lahar dan terdiri atas breksi andesit dan konglomerat. Pada formasi ini dijumpai Frakmen dari mineral kaledon, kaursa susu, carnelian, agate, kerikil andesit, tufa dan pasiran yang merupakan penyusun utama dari breksiden konglomerat. Pada endapan kerikil banyak ditemukn serpih bilah, yaitu alat pada tingkat perkembangan menjadi konglomerat dan batu pasir silang siur dengan ketebalan sekitar 2-45 meter tersebut menunjukan bahwa kala plastosen akhir telah terjadi banjir lahar yang besar.
Secara stratigrafis situs ini merupakan situs manusia purba berdiri tegak terlengkap di Asia yang kehidupannya dapat dilihat secara berurutan dan tanpa terputus sejak 2 juta tahun yang lalu hingga 200.000 tahun yang lalu yaitu sejak Kala Pliocene Akhir hingga akhir Pleistocene Tengah. Situs Sangiran menurut penelitian geologi muncul sejak Jaman Tersier akhir Pada kala Pliocene atas kawasan Sangiran masih berupa lautan dalam yang berangsur berubah menjadi laut dangkal dengan kehidupan foraminifera dan moluska laut. Pendangkalan berjalan terus sampai akhir kala Pliocene.

E.  Pengungkap Situs Sejarah Sangiran
Penelitian terhadap situs sangiran diwali oleh Eugene Dubois pada tahun 1893 dimana sebelum dia mengadakan penelusuran mencari fosil nenek moyang manusia di Sumatra Barat, tetapi dia tidak menemukannya. Selai Dubois, tahun 1930-an penelususranb dilakukan oleh GHR Von Koenigswald. Tahun 1934 Von Koenigswald berhasil menemukan kurang lebih 1000 alat batuan manusia purba yang pernah hidup di Sangiran.
Tahun 1936 Von Koenigswald berhasil menemukan fosil rahang atas manusia pdan selanjutnya ia memberi nama fosil Megantrophus Paleojavanicus. Tahun 1973 dia juga berhasil menemukan manusia purba yang dicari oleh Eugene Dubois yaitu Pithecanthropus Erectus. Penemuan kedua ini mendorong para ahli untuk mengadakan penelitian lanjutan di situs sangiran diantaranya : Helmut de Tera, Movius, P. Marks, RW van Bemmelean, H.R van Hekkeren, Gert jan Barsta, Francois Semah, Anne Marie Semah, M. Itahara. Sedangkan peneliti-peneliti dari Indonesia yang serius menangani sangiran adalah: R.P Soejono, Teuku Jacob, S. Sartono, dan Hari Widianto.

F.   Pemeliharaan Terhadap Sangiran
Perlindungan terhadap kawasan ini (Sangiran) bias dikatakan cukup ketat sebab beberapa waktu lalu ada beberapa benda purba (fosil) yang berhasil diselundupkan ke luar negeri. Oleh karena itu, untuk menjaga agar benda-benda tersebut tidak dijual kepada orang lain, maka masyarakat setempat yang berhasil menemukan benda-benda sejarah diminta untuk menyerahkan ke museum purbakala sangiran dan mereka akan mendapatkan imbalan.
Selain mendirikan museum situs prasejarah sangiran untuk menjaga kawasan sangiran, pemerintah juga mengeluarkan Undang-undang tentang perlindungan cagar budaya sangiran, yaitu:
1.     Mengeluarkan SK. Mendikbud No. 70/111/1977 dan menetapkan sangiran sebagai cagar budaya. Semua fosil-fosil di wilayah sangiran dilindungi dan setiap temuan harus diserahkan kepada pemerintah.
2.    UU No. 5 Tahun 1992 tentang benda cagar budaya yang lebih keras yaitu, menetapkan sangiran sebagai cagar budaya (UNESCO). Meskipun pemerintah telah membuat peraturan perundang-undangan tentang perlindungan cagar budaya, tetapi pada kenyataannya masih mengalami beberapa masalah yaitu;
a.       Daerah yang seluas 32 km² hanya diawasi oleh tenaga yang sangat terbatas. Daerah itu hanya dijaga oleh 27 personil, termasuk 8 orang bertugas sebagai satpam.
b.      Adanya tradisi memberi hadiah terhadap penemu fosil yang telah berlangsung sejak jaman pendudukan Belanda.
c.       Para pembeli asing menawarkan harga yang lebih tinggi dibandingkan dari pemerintah, sehingga banyak penduduk setempat yang menjual fosil temuannya kepada pembeli asing.

G. Sumbangan Sangiran Untuk Masyarakat Sekitar Dan Ilmu Pengetahuan
Sangiran memberi sumbangan tersendiri bagi masyarakat, khususnya di daerah sekitar situs sangiran dan masyarakat Indonesia, serta masyarakat dunia pada umumnya. Dengan kehadiran sangiran, masyarakat setempat dapat penghasilan dengan cara menjual berbagai macam fosil yang merupakan hasil temuan di situs sangiran. Selain untuk masyarakat setempat, Sangiran juga memberi sumbangan tersendiri bagi masyarakat Indonesia yaitu sebagai sumbangan pengetahuan. Sedangkan untuk dunia Sangiran dijadikan situs penelitian dan study evolusi manusia purba oleh para ahli dari berbagai penjuru dunia.
Sangiran juga memberi sumbangan yang sangat berarti bagi ilmu pengetahuan yaitu sebagai salah satu tempat bagi orang-orang yang ingin mengetahui situs prasejarah dan suaka purbakala sangiran. Secara khusus bagi mahasiswa yang menekuni ilmu sejarah, dimana sangiran menyimpan peninggalan-peninggalan masa lampau. Selai itu juga sangiran menjadi sumber bahan penulisan buku-buku prasejarah di Indonesia.

H.  Koleksi – Koleksi Museum Sangiran
Koleksi yang berada di museum sangiran saat ini semua berasal dari sekitar situs sangiran. Koleksi – koleksi tersebut berupa fosil manusia, fosil hewan, fosil tumbuhan, batu batuan, sedimentani, dan juga peralatan dapur yang dulu pernah dibuat dan digunakan oleh manusia purba yang pernah bermukim di sangiran.
1.    Fosil kayu yang terdiri dari
A.    Fosil kayu yang terdiri dari
a.       Temuan dari Dukuh Jambu, Desa Dayu, Kecamatan Gondangrejo Kabupaten Karanganyar.
b.      Ditemukan pada tahun 1995 pada lapisan tanah lempung
c.       Warna abu-abu
d.      Formasi pucangan
B.     Fosil batang pohon
a.       Temuan dari Desa krikilan , Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen
b.      Fosil ini ditemukan pada tahun 1977 pada lapisan tanah lempung
c.       Warna abu-abu dari endapan
d.       Formasi pucangan
2.     Tulang hasta (Ulna) Stegodon Trigonocephalus
a.       Ditemukan di kawasan cagar sangiran
b.      Pada tanggal 23 november 1975 di tanah lapisan lempung
c.       Warna abu –abu
d.      Formasi kabuh bawah
3.    Tulang paha
a.       Ditemukan dari Desa Ngebung, Kecamatan kalijambe, Kabupaten Sragen
b.      Pada tanggal 4 Februari 1989 pada lapisan tanah lempung
c.       Warna abu – abu dari endapan
d.      Formasi pucangan atas
4.    Tengkorak kerbau
a.       Ditemukan oleh Tardi
b.      Pada tanggal 20 November 1992 di Dukuh Tanjung, Desa Dayu Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar pada lapisan tanah
c.       Warna coklat kekuning-kunginan yang bercampur pasir
d.      Formasi kabuh
e.       Berdasarkan penanggalan geologi berumur 700.000-500 tahun
5.    Gigi Elephas Namadicus
a.       Ditemukan di situs cagar budaya sangiran
b.      Pada tanggal 12 Desember 1975, Pada lapisan tanah pasir bercampur kerikil berwarna cokelat
c.        Formasi kabuh
6.    Fragmen gajah purba
a.       Hidup di daerah cagar budaya sangiran
b.      Jenisnya adalah:
·         Mastodon
·         Stegodon
·         Elephas
7.    Tulang rusuk (Casta) Stegodon Trigonocephalus
a.       Ditemukan oleh Supardi
b.      Tanggal 3 Desember 1991 di Dukuh Bukuran, Desa Bukuran Kecamatan kalijambe Kabupaten Sragen pada lapisan lempung
c.       Warna abu – abu dari endapan pucangan atas
8.    Ruas tulang belakang (Vertebrae)
a.       Ditemukan di situs cagar budaya sangiran
b.      Pada tanggal 15 Desember 1975
c.       Di lapisan tanah pasir
d.      Berwarna abu – abu
e.       Formasi kabuh bawah
9.    Tulang jari (Phalanx)
a.       Ditemukan di situs sangiran
b.      Pada tanggal 28 oktober 1975
c.       Pada lapisan tanah pasir kasar
d.      Warna cokelat kekuning-kuningan
e.       Formasi kabuh
10.    Rahang atas Elephas Namadicus
a.       Rahang ini dilengkapi sebagian gading
b.      Ditemukan oleh Atmo
c.       Di Dukuh Ngrejo, Desa Samomorubuh Kecamatan Plupuh Kabupaten Sragen
d.      Pada tanggal 24 April 1980
e.       Pada lapisan Grenz bank
f.       Antara formasi pucangan dan kabuh
11.    Tulang kaki depan bagian atas (Humerus)
a.       Bagian fosil ditemukan oleh Warsito
b.      Desa Krikilan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen
c.       Pada tanggal 28 Desember 1998
d.      Pada lapisan tanah lempung
e.       Warna abu – abu
f.       Dari formasi pucangan atas kala pleistosen bawah
12.    Tulang kering
a.       Ditemukan oleh Warsito
b.      Di Dukuh Bubak Desa Ngebung, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen
c.       Pada tanggal 4 januari 1993
d.      Lapisan tanah lempung
e.       Warna abu – abu
f.       Dari formasi pucangan atas
13.    Fosil Molusca
a.       Klas Pelecypoda
b.      Klas Gastropoda
14.    Binatang air
A.      Tengkorak buaya (Crocodilus Sp.)
a.       Ditemukan pada tanggal 17 Desember 1994
b.      Oleh Sunardi
c.       Di Dukuh Blimbing, Desa Ngebung, Kecamatan kalijambe kabupaten Sragen
d.      Formasi pucangan
B.      Kura – kura (Chlonia Sp.)
a.       Ditemukan pada tanggal 1 Februari 1990
b.      Oleh hari Purnomo
c.       Dukuh Pablengan, Desa krikilan , Kecamatan Kalijambe, kabupaten Sragen
d.       Formasi pucangan
C.      Ruas tulang belakang ikan
a.       Ditemukan pada tanggal 20 November 1975
b.      Oleh Suwarno
c.       Di Desa Bukuran, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen
d.      Formasi pucangan

I.     Pengertian Fosil Pengertian, Manfaat dan Syarat terbentuknya fosil.
Fosil adalah sisa-sisa organisme yang pernah hidup di waktu silam, yang diawetkan oleh alam. Karena terawetkan sejak 3,5 miliar tahun yang lalu fosil menjadi petunjuk penting mengenai sejarah bumi.
Manfaat dari fosil adalah :
a.       Fosil merupakan kunci yang menentukan mengenai lingkungan masa lalu. Binatang dan tumbuhan hidup di daerah yang memiliki keadaan (iklim) yang berbeda-beda. Dengan menggunakan keadaan iklim dari binatang dan tumbuhan pada zaman modern sebagai bandingan dan penerapan Prinsip Uniformtarianisme, dapat diperkirakan keadaan iklim pada saat hidupnya tumbuhan dan binatang serupa pada zaman dahulu. Misalnya dari fosil tumbuhan dapat diperkirakan curah hujan dan suhu di darat zaman dahulu, dan dari fosil mikro organisme yang terapung dapat menunjukkan keadaan suhu dan salinitas air laut.
b.      Fosil merupakan dasar utama dalam menentukan umur relatif suatu lapisan dan komponen yang sangat penting dalam menyusun sejarah bumi yang sudah berumur 600 juta tahun.
c.       Sebagai penunjuk waktu (time indicator) dalam geologi.
d.      Menentukan perkiraan umur relatif batuan : lapisan yang memiliki kesamaan kandungan fosil diperkirakan diendapkan pada waktu yang bersamaan.
e.       Mengetahui kisaran lingkungan pengendapan : penemuan fosil pada suatu tempat dapat menjadi petunjuk untuk menentukan lingkungan pengendapan, misalnya dengan ditemukannya fosil ikan pada suatu lapisan menunjukan bahwa wilayah sekitar lapisan tersebut kemungkinan adalah suatu lingkungan air.
f.       Menentukan korelasi batuan : lapisan batuan pada suatu daerah dapat dikatakan sama dengan lapisan batuan didaerah lain jika keduanya mengandung jenis fosil yang sama.
g.      Fosil penting untuk memahami sejarah batuan sedimen bumi. Subdivisi dari waktu geologi da